Kayu Gelondongan Hantam Permukiman Saat Bencana Banjir Besar Purbalingga


Jakarta, CNN Indonesia

Bencana Banjir Besar melanda Desa Serang, Kecamatan Karangreja, dan Desa Sangkanayu, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Jateng, pada Sabtu (24/1) dini hari. Dua desa yang berada di lereng tenggara Gunung Slamet itu terdampak parah akibat luapan sungai yang membawa material lumpur dan kayu gelondongan.

Dalam peristiwa tersebut, satu warga Desa Serang bernama Solihah (26) meninggal dunia setelah terseret arus Bencana Banjir. Rumah korban Bahkan roboh dan rata dengan tanah akibat terjangan air.

Pantauan di Tempat menunjukkan Sebanyaknya ruas jalan desa rusak parah. Sisa lumpur dan kayu gelondongan masih terlihat di beberapa titik, meski Pernah terjadi dibersihkan oleh tim relawan gabungan.



ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sesuai aturan keterangan warga, material Bencana Banjir sempat melintasi jalan utama Ke arah jalur Basecamp Pos Bambangan, salah satu akses pendakian Gunung Slamet dari arah Kota Purbalingga. Dampak terparah terjadi di sekitar permukiman warga yang berada di bantaran Sungai Soso.





Salah satu warga RT 13 RW 05 Desa Sangkanayu, Tri Sasongko (29), menceritakan detik-detik Bencana Banjir Besar yang terjadi sekitar pukul 03.15 WIB. Menurutnya, hujan saat itu tidak terlalu deras, Berbeda dengan disertai angin kencang yang Pernah terjadi berlangsung selama beberapa hari terakhir.

“Jam tiga lebih seperempat hujan tidak deras Kenyataannya, cuma anginnya besar banget. Arah air dari barat atau atas. Tiba-tiba banter banget luapan sungai karena tertutup,” kata Tri.

Ia menuturkan, ketinggian air mencapai sekitar satu meter dan berlangsung selama kurang lebih setengah jam. Arus pertama membawa lumpur dan pasir, sempat surut sekitar 15 menit, lalu kembali datang dengan kekuatan lebih besar disertai material kayu.

“Air itu sekitar satu meter, berlangsung setengah jam bawa lumpur dan pasir. Sempat hilang 15 menitan, terus dihajar lagi bawa material kayu,” ujarnya.

Tri Bahkan menyebut angin kencang Sebelumnya dirasakan warga selama tiga hari terakhir Sampai saat ini membuat sebagian warga kesulitan beristirahat.

“Angin Sebelumnya tiga hari ini besar banget. Cuma sempat mendung, jadi jarang tidur,” tambahnya mengutip DetikJateng.

Korban lainnya, Saryono Sakirin (68), warga RT 14 RW 05 Desa Sangkanayu, mengaku kehilangan rumah beserta seluruh peralatan produksi batako miliknya akibat diterjang Bencana Banjir Besar. Saat kejadian, Saryono tengah tertidur lelap sebelum istrinya membangunkan karena air Sebelumnya masuk ke dalam rumah.

“Saya lagi tidur di rumah. Terus istri saya kebangun, air Sebelumnya masuk rumah. Air besar banget. Saya panik terus naik ke lantai dua. Tapi air semakin besar dan suara gemuruh menakutkan,” kata Saryono.

Ia menyebut arus Bencana Banjir semakin deras dengan membawa batang kayu berukuran besar yang menghantam tiang penyangga rumahnya.

“Ternyata kayu yang datang sampai saka rumah saya tertabrak kayu besar. Alhamdulillah tidak patah. Kalau patah ya ambruk,” ujarnya.

Akibat kejadian tersebut, sebagian bangunan rumahnya hanyut terbawa arus. Kantor kecil yang digunakan untuk usaha jual beli batako, tembok keliling, Sampai saat ini bahan bangunan turut hilang. Dua sepeda Kendaraan Bermotor Roda Dua miliknya Bahkan terseret Bencana Banjir, sementara satu unit kendaraan jenis Tossa tertimbun lumpur.

“Material batako Kemungkinan ada sekitar 500-an yang hilang, genteng Bahkan. Rencana saya kan Ingin bangun rumah lagi,” ucapnya.

Seluruh peralatan produksi, mulai dari cetakan batako Sampai saat ini cetakan paving, Bahkan hanyut terbawa arus. Saryono memperkirakan total kerugian akibat Bencana Banjir Besar tersebut mencapai ratusan juta Mata Uang Nasional.

“Kerugiannya Kemungkinan sampai ratusan juta,” pungkasnya.

(tis/tis)


Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

Exit mobile version