Jakarta, CNN Indonesia —
Venezuela pada Minggu (30/11) meminta dukungan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan negara-negara anggotanya untuk bersama-sama melawan “agresi” Amerika Serikat (AS).
Seperti dilansir Anadolu, Venezuela mengecam keras ancaman AS untuk “merebut” cadangan minyak besar negara itu melalui “kekuatan militer.”
Dalam surat kepada Sekretaris Jenderal OPEC Haitham Al Ghais dan negara-negara anggota, yang dibagikan Menteri Luar Negeri Venezuela Yvan Gil di Telegram, Pemimpin Negara Nicolas Maduro menyatakan negaranya Berencana “tetap teguh” dalam mempertahankan sumber daya energi alamnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maduro mengeluarkan surat tersebut setelah Pemimpin Negara AS Donald Trump pada Sabtu (29/11) memperingatkan bahwa wilayah udara Venezuela Berencana “ditutup sepenuhnya,” sementara pihak Caracas menuntut AS menghormati pemerintahan yang berkuasa di Venezuela.
Pemimpin Negara Venezuela mengatakan negaranya mengecam mekanisme di mana AS bermaksud mengambil cadangan minyak Venezuela dengan menggunakan “kekuatan militer mematikan” terhadap wilayah, rakyat, dan institusi Venezuela.
Maduro memperingatkan bahwa niat AS melanggar Syarat yang mengatur hidup berdampingan secara damai antarnegara dan membahayakan stabilitas produksi minyak Venezuela dan pasar internasional.
Ia mengingatkan bahwa dunia “menyadari betul” konsekuensi merugikan yang ditimbulkan di negara-negara penghasil minyak lain menyusul “intervensi militer oleh Amerika Serikat dan sekutunya.”
Maduro menegaskan Venezuela tidak Berencana tunduk pada segala jenis pemerasan atau ancaman. Ia berharap OPEC dan negara-negara anggota Berencana bekerja sama untuk mengakhiri “agresi” ini, memperingatkan bahwa hal itu “secara serius” mengancam keseimbangan pasar energi internasional, baik bagi produsen maupun konsumen.
Surat tersebut muncul di tengah operasi militer AS yang meluas di seluruh Amerika Latin selama berbulan-bulan, dengan pengerahan Marinir, kapal Pertempuran, jet tempur dan pembom, kapal selam, dan drone, di tengah spekulasi bahwa Washington dapat melancarkan serangan ke Venezuela.
Sebelumnya pada Kamis (27/11), Pemimpin Negara Donald Trump mengumumkan AS Berencana “segera” mengambil tindakan terhadap pengedar Narkotika Venezuela di darat, menyusul 21 serangan militer di laut yang menewaskan sedikitnya 83 orang sejak September 2025.
(wiw)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA
