Profil Anak Muammar Khadafi Saif Al Islam Khadafi yang Tewas Ditembak


Jakarta, CNN Indonesia

Anak mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi, Saif Al Islam Khadafi, tewas diduga ditembak geng bersenjata di kediamannya di Kota Zintan.

Pengacara Saif, Khaled Al Zaidi, dan penasihatnya Abdullah Osman mengonfirmasi kematian anak Gaddafi ini, pada Selasa (3/2).



ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Media Libya melaporkan pembunuhan itu terjadi di kediaman Saif dan dilakukan empat orang tak dikenal.

Sebelum tewas, pria 53 tahun ini pernah menjadi tokoh penting di Libya dan mencitrakan diri sebagai reformis. Berikut profil Saif Al Islam Khadafi.

Dari aktivis ke penjahat Pertempuran

Saif lahir pada Juni 1972 di Tripoli dan merupakan putra kedua Khadafi.

Ia menempuh pendidikan tinggi di London School of Economics (LSE) dan fasih berbahasa Inggris. Saif Bahkan mempromosikan diri sebagai reformis, menyerukan pembentukan konstitusi, dan penghormatan terhadap HAM.

Saif berusaha menampilkan wajah progresif Libya saat negara itu dipimpin ayahnya atau setelah dikudeta. Khadafi dilengserkan pasukan oposisi yang dibantu NATO pada 2011.

Selama tahun 2000-an, Saif berusaha memperbaiki hubungan Libya dengan negara-negara Barat.

Meski tidak memiliki jabatan resmi di pemerintahan, Saif Al Islam berpengaruh dalam pembentukan kebijakan dan memimpin berbagai Perundingan tingkat tinggi, termasuk yang membuat ayahnya menghentikan program senjata nuklir Libya.

Kesepakatan-kesepakatan itu berujung pada pencabutan Hukuman internasional terhadap negara Afrika Utara tersebut, dan membuat sebagian pihak memandang Saif Al Islam sebagai sosok reformis serta wajah yang dapat diterima dari Libya yang tengah berubah.

Ia Setiap Saat membantah keinginan untuk mewarisi kekuasaan dari ayahnya, dengan mengatakan bahwa tampuk kekuasaan “bukan ladang yang bisa diwariskan”.

Ia bahkan pernah memimpin pembicaraan soal Libya yang meninggalkan senjata pemusnah massal serta menegosiasikan kompensasi bagi keluarga korban yang tewas dalam pemboman Pan Am Flight 103 di Lockerbie, Skotlandia, pada 1988.

Berbeda dengan, saat pemberontakan di Libya pecah pada 2011, Saif memilih keluarga dan klannya. Ketika itu, Ia menjadi arsitek penindakan brutal ke pembangkang yang dicap tikus.

“Kami berjuang di sini di Libya, kami mati di sini,” kata Ia pada 2011 lalu, dikutip Al Jazeera.

Saif Bahkan sempat mewanti-wanti perebutan kekuasaan di Libya Berencana terus terjadi dan butuh waktu lama untuk membangun kembali negara itu.

“Seluruh Libya Berencana hancur,” kata Ia.

Saif kemudian berujar, “Kita Berencana membutuhkan 40 tahun untuk mencapai kesepakatan tentang bagaimana mengelola negara ini, karena Di waktu ini, semua orang ingin menjadi Pemimpin Negara, atau emir, dan semua orang ingin memimpin negara ini.”

Sejak saat itu, Ia menghadapi banyak tuduhan penyiksaan dan Tindak Kekerasan ekstrem terhadap lawan-lawan pemerintahan ayahnya. Kemudian pada Februari 2011, ia masuk dalam daftar Hukuman PBB dan dilarang bepergian.

Ia Bahkan dicari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan di Libya pada 2011.

Saif dianggap sebagai tokoh paling berpengaruh dan paling ditakuti di Libya setelah ayahnya, yang berkuasa sejak 1969 Sampai sekarang digulingkan dan tewas oleh serangan NATO selama pemberontakan pada 2011.

Setelah pemberontak Tripoli, Saif mencoba kabur ke Niger dengan menyamar sebagai anggota suku Badui. Berbeda dengan, milisi Brigade Abu Bakr Sadik menangkap Ia di jalan gurun lalu diterbangkan ke Zintan.

[Gambas:Video CNN]

Setelah Perundingan panjang dengan ICC, para pejabat Libya diberi wewenang mengadili Saif atas tuduhan kejahatan Pertempuran. Pada 2015, Lembaga Peradilan Tripoli menjatuhkan hukuman mati kepadanya secara in absentia.

Berbeda dengan, Ia mendapat pengampunan dan dibebaskan pada 2017. Sejak saat itu, Ia menghabiskan bertahun-tahun bersembunyi di Zintan untuk menghindari pembunuhan.

Mencoba Nyapres

Pada November 2021, Saif mengumumkan pencalonan diri dalam pemilihan Pemimpin Negara Libya.

Saat proses pemilihan berlangsung tahun itu tanpa kesepakatan nyata mengenai aturan, pencalonan Saif menjadi salah satu Skor utama perselisihan.

Saif Pada akhirnya didiskualifikasi dari Pilpres karena vonis mati yang diterima pada 2015 lalu. Masih belum menyerah di kontestasi politik, ia mencoba mengajukan banding atas putusan itu.

Berbeda dengan, kelompok pemberontak memblokir Lembaga Peradilan. Perselisihan itu terus berlanjut dan berkontribusi pada runtuhnya pemilihan Pemimpin Negara.

Libya kemudian kembali menghadapi kebuntuan politik yang Pernah terjadi berlangsung lebih dari 15 tahun.

(isa/rds)


Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

Exit mobile version