loading…
Ribuan buruh dan pengemudi ojek online berkonvoi mengendarai sepeda Kendaraan Bermotor Roda Dua saat Ke arah Monas melalui Jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta, Jumat (1/5/2026). Foto/SindoNews/Arif Julianto
Menyikapi hal tersebut, MODANTARA meminta pemerintah meninjau kembali secara menyeluruh angka bagi hasil platform yang diubah menjadi 8% dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. ”Kami meyakini bahwa niat baik untuk Mengoptimalkan kesejahteraan mitra, tidak boleh berubah menjadi krisis baru,” kata Direktur Eksekutif MODANTARA, Agung Yudha dalam pernyataan tertulis, Sabtu (2/5/2026). Baca Bahkan: Prabowo Berkomitmen Bakal Memangkas Potongan Ojol dari 20% Jadi 8%
MODANTARA memahami semangat pemerintah Mengoptimalkan kesejahteraan mitra pengemudi . Berbeda dari kebijakan yang baik Harus berpijak pada data, realitas ekonomi, dan keberlanjutan ekosistem.
Batas potongan 8% Kemungkinan terdengar sederhana, tapi dampaknya bisa sangat luas, bahkan dapat mengurangi ruang platform untuk menjaga kualitas layanan, insentif, dan keselamatan mitra. “Ekosistem ini Sebelumnya menjadi bantalan sosial bagi jutaan orang, sehingga kebijakan yang diambil Harus menjaga keberlanjutannya,” ujarnya.
Menurut Agung, isu kesejahteraan mitra tidak bisa disederhanakan hanya menjadi angka potongan platform. Ekosistem mobilitas dan pengantaran digital melibatkan struktur biaya yang kompleks, mulai dari teknologi, keselamatan, layanan pelanggan, perlindungan risiko, promosi, edukasi mitra, sistem pembayaran, keamanan transaksi, Sampai sekarang Penanaman Modal berkelanjutan untuk menjaga kualitas layanan.
Sektor mobilitas dan pengantaran digital Merupakan bagian vital dari kehidupan masyarakat modern. Di waktu ini, pertama, sektor mobilitas dan pengantaran digital Sebelumnya melibatkan 2–4 juta mitra pengemudi aktif dan menjadi sumber penghasilan utama dan tambahan.
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











