Usai Culik Maduro, Trump Buka Pintu Perusahaan Keruk Minyak Venezuela


Jakarta, CNN Indonesia

Pemimpin Negara Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pada Sabtu (3/1) ia Berniat mengizinkan perusahaan minyak dari negaranya masuk Venezuela. Pernyataan ini keluar usai agresi militer AS Sampai sekarang berujung penculikan Nicolas Maduro, Pemimpin Negara negara yang punya cadangan minyak mentah terbesar dunia itu.

“Kita Berniat mengizinkan perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran Mata Uang Asing, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara itu,” kata Trump dalam konferensi pers di Florida, diberitakan AFP.

Ditambah lagi dengan Trump Bahkan mengatakan “embargo terhadap semua minyak Venezuela tetap berlaku sepenuhnya.”



ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

AS Sebelumnya memberlakukan Hukuman ekonomi terhadap Venezuela sejak 2017, yang diikuti Hukuman minyak dua tahun kemudian.

Menurut data Administrasi Informasi Energi (EIA) AS, Venezuela yang merupakan salah satu pendiri OPEC memiliki cadangan minyak terbesar di dunia sebesar 303 miliar barel atau 17 persen dari cadangan global.

Jumlah tersebut mengalahkan cadangan minyak negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi yang memiliki 267 miliar barel, Iran 209 miliar barel serta Irak 145 miliar barel.

Matt Smith, analis minyak di Kpler mengatakan produksi minyak Venezuela mencapai puncaknya pada 3,5 juta barel per hari pada akhir 1990-an, tetapi Sudah menurun secara signifikan sejak saat itu.

Produksi minyak Venezuela Pada Saat ini Bahkan sekitar 800.000 barel per hari. Sebagai perbandingan, pada 26 Desember AS memproduksi sekitar 13,8 juta barel per hari.

Sebagian besar minyak mentah Venezuela dijual di pasar gelap dengan Potongan Harga besar.

Trump mengklaim Venezuela menggunakan uang minyak untuk membiayai “Aksi Teror Narkotika, perdagangan manusia, pembunuhan, dan penculikan.”

Pada awal masa jabatan keduanya pada 2025, Trump mengakhiri izin yang memungkinkan perusahaan minyak dan gas multinasional beroperasi di Venezuela Sekalipun ada Hukuman. Semua disetop kecuali satu, Dengan kata lain perusahaan asal AS, Chevron.

Chevron mengoperasikan empat ladang minyak di Venezuela dalam kemitraan dengan PDVSA milik Venezuela dan afiliasinya.

AS Bahkan Sudah memberlakukan blokade total terhadap kapal tanker yang dikenai Hukuman yang Ke arah dan dari Venezuela.

Wilayah Venezuela mengandung sekitar 17 persen cadangan minyak dunia, menurut Badan Energi Internasional (IEA) pada tahun 2023, tetapi jauh dari menjadi produsen utama setelah bertahun-tahun salah urus dan Pencurian Uang Negara.

Minyak Venezuela Unggul rendah dan sebagian besar diolah menjadi diesel atau produk sampingan seperti aspal, bukan bensin. AS memiliki kilang di sekitar Teluk Meksiko yang dirancang khusus untuk mengolahnya.

(lom/fea)


Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

Exit mobile version