Jakarta, CNN Indonesia —
Kepala Negara Prabowo Subianto meresmikan Pertamina Refinery Development Master Plan (RDMP) milik Pertamina di Balikpapan, Kaltim, Senin (12/1). Kilang minyak tersebut disebut menjadi yang terbesar di Indonesia.
“Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada sore hari ini, Senin, 12 Januari 2026. Saya Prabowo Subianto Kepala Negara RI dengan ini meresmikan Proyek Infrastruktur terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan,” ujar Prabowo di Kilang Balikpapan.
RDMP dapat Mengoptimalkan kapasitas kilang dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari. Selain produksi minyak, kilang ini Bahkan Berencana digunakan untuk memperbaiki kualitas produk, menurunkan harga pokok produksi bahan bakar minyak (BBM), Sampai sekarang mengurangi Perdagangan Masuk Negeri BBM, terutama solar. Indonesia bahkan digadang-gadang bisa tak lagi Perdagangan Masuk Negeri solar tahun ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Apalagi, Kilang Balikpapan Berencana mampu menghasilkan produk petrokimia. Ini merupakan lompatan besar dalam peningkatan kualitas BBM nasional, dengan kapasitas kilang mencapai 360 ribu barel per hari serta Membantu program hilirisasi,” ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron dalam keterangan, Minggu (11/1).
Lantas bisakah RDMP Balikpapan membuat RI tak lagi Perdagangan Masuk Negeri solar?
Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia Ferdinand Hutahaean mengatakan RDMP Balikpapan Niscaya Berencana Membantu upaya kemandirian energi secara bertahap di Indonesia. Pasalnya bisa Mengoptimalkan produksi kilang dari 260 ribu barel per hari ke 360 ribu barel per hari.
“Pada saat ini Bahkan total kapasitas produksi kilang minyak kita meningkat menjadi 1,18 juta barel per hari dari total kebutuhan harian berkisar 1,4 juta – 1,6 juta barel per hari. Dengan demikian defisit angka produksi dengan konsumsi semakin mendekat dan semakin tipis jaraknya,” katanya pada CNNIndonesia.com, Senin (12/1).
“Niscaya ini Berencana mengurangi Perdagangan Masuk Negeri produk BBM meski kita tetap Berencana Perdagangan Masuk Negeri minyak mentah untuk kebutuhan produksi,” sambungnya.
Ferdinand menilai RDMP Balikpapan tampaknya Berencana difokuskan untuk produksi solar sehingga mencukupi kebutuhan nasional tahunan sebesar 19 Juta kiloliter (kl) per tahun. Kapasitas Kilang Balikpapan sangat mampu memenuhi kebutuhan tersebut.
“Dengan beroperasinya Kilang Balikpapan pasca diresmikan Kepala Negara, maka Indonesia dipastikan Berencana mampu memenuhi kebutuhan solar nasional dan tidak Wajib Perdagangan Masuk Negeri lagi. Dengan demikian kemandirian energi secara bertahap mulai terpenuhi dari kemandirian solar,” katanya.
Sementara itu, Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (PUSKEPI) Sofyano Zakaria mengatakan RDMP Balikpapan sebagai kilang terbesar RI bisa mengurangi Perdagangan Masuk Negeri solar, tetapi tidak menghentikannya secara total.
Ia mengatakan dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, RI bisa surplus BBM solar dengan cetane number (CN) 48. Sementara untuk Solar atau diesel dengan CN 51 masih Dianjurkan Perdagangan Masuk Negeri 600 ribu kl per tahun. Meskipun demikian, Dianjurkan dibarengi dengan kebijakan biodiesel 50 persen (B50).
“Sangat besar (penurunan Perdagangan Masuk Negeri solar CN 51). Kalau 600 ribu kl, berarti penurunannya hampir 90 persen,” katanya.
Sementara untuk bensin, Sofyan Bahkan menduga Berencana terjadi penurunan Perdagangan Masuk Negeri, meski penurunannya tidak Berencana sampai 90 persen seperti solar.
Pada Singkatnya, sambungnya Sofyan, RDMP Balikpapan bisa berpengaruh besar terhadap ketahanan dan kemandirian energi RI. Meskipun demikian, belum bisa membuat RI langsung swasembada energi.
“Swasembada energi total kan tidak bisa hanya mengandalkan fosil, Dianjurkan ada substitusi. Katakan misalnya kita bisa B100, kita bisa mewujudkan swasembada. Tapi pertanyaannya, apakah kita bisa mengganti BBM fosil ke sawit? Ini butuh waktu, tidak bisa sekonyong-konyong dalam 2 – 3 tahun,” kata Sofyan.
“Kita Dianjurkan bijak ketika kita swasembada energi, mengganti energi fosil ke non-fosil kita kan Dianjurkan bijak. Jangan memaksakan diri, BBM non-fosil ternyata harganya lebih tinggi,” sambungnya.
(pta)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA









