{"id":5464,"date":"2024-07-16T18:05:48","date_gmt":"2024-07-16T11:05:48","guid":{"rendered":"https:\/\/wamena.id\/gelapnya-langit-lembang-100-tahun-lalu-alasan-bosscha-ada\/"},"modified":"2024-07-16T18:05:51","modified_gmt":"2024-07-16T11:05:51","slug":"gelapnya-langit-lembang-100-tahun-lalu-alasan-bosscha-ada","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wamena.id\/?p=5464","title":{"rendered":"Gelapnya Langit Lembang 100 Tahun Lalu, Alasan Bosscha Ada"},"content":{"rendered":"\n<div>\n<p>                    <!-- S: Table Of Content--><br \/>\n                                        <!-- E: Table Of Content--><\/p>\n<p>                    <strong>Jakarta, CNN Indonesia<\/strong> &#8212; <\/p>\n<p>Kawasan <strong><span style=\"color: #ff0000;\"><span style=\"color: #ff0000;\">Lembang<\/span><\/span><\/strong>, Bandung Barat,\u00a0dulunya punya kondisi langit malam yang gelap tanpa polusi cahaya.\u00a0Inilah alasan\u00a0<strong><span style=\"color: #ff0000;\"><span style=\"color: #ff0000;\">Observatorium Bosscha<\/span><\/span><\/strong>\u00a0didirikan di sana lebih dari seabad lalu.<\/p>\n<p>Observatorium Bosscha, yang dulu dikenal sebagai Bosscha Sterrenwacht,\u00a0dibangun atas inisiasi Karel Albert Rudolf (K.A.R.) Bosscha.<\/p>\n<p>Dibantu oleh kemenakannya, R.A. Kerkhoven dan seorang astronom Hindia Belanda, Joan George Erardus Gijsbertus Vo\u00fbte, Bosscha menghimpun massa buat membentuk perkumpulan yang Nanti akan merealisasikan ide pembangunan observatorium.<\/p>\n<p><!-- s: parallax --><\/p>\n<div class=\"paradetail\" style=\"clear: both; margin-bottom: 24px;background-color:#F8F8F8; height: 650px;\">\n<p class=\"para_caption\" style=\"display:block;font-size: 9px;color: rgba(0, 0, 0, 0.55);position: relative;margin:5px;text-align: center;left: 0px;right: 0px;letter-spacing: 0.7px;\">&#13;<br \/>\n    ADVERTISEMENT&#13;\n<\/p>\n<p class=\"para_caption\" style=\"display:block;font-size: 9px;color: rgba(0, 0, 0, 0.55);position: relative;margin: 0px;text-align: center;left: 0px;right: 0px;letter-spacing: 0.7px;\">&#13;<br \/>\n    SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT&#13;\n<\/p>\n<\/div>\n<p><!-- e: parallax --><\/p>\n<p>Pada pertemuan di Hotel Homann Bandung,\u00a012 September 1920, terbentuklah Perhimpunan Astronomi Hindia Belanda\u00a0(Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereniging\/NISV).<\/p>\n<p>Tujuan\u00a0jelas, &#8220;mendirikan dan memelihara sebuah observatorium astronomi di Hindia Belanda, dan memajukan ilmu astronomi&#8221;.<\/p>\n<p><!-- s: static_detail --> <!-- e: static_detail --><\/p>\n<p>Karel Bosscha bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji Nanti akan Menyajikan bantuan pembelian teropong bintang.<\/p>\n<p>&#8220;Sebagai penghargaan atas jasa K.A.R. Bosscha dalam pembangunan observatorium ini, maka nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini. Observatorium Bosscha diresmikan pada 1 Januari 1923,&#8221; demikian melansir keterangan Bosscha\u00a0di situsnya.<\/p>\n<p>Seabad kemudian, Bosscha\u00a0makin tercemar oleh polusi cahaya dari perkotaan. Per Sabtu (13\/7), lampu\u00a0yang menyorot ke langit, yang menurut netizen berasal dari pasar malam di kawasan Geger Kalong, Bandung, &#8216;membutakan&#8217; teleskop Bosscha.<\/p>\n<p>Kenapa Bosscha mesti mendirikan observatorium itu di Lembang Seandainya\u00a0Di waktu ini diteror cahaya kota?<\/p>\n<p>Dua Ilmuwan dari Institut Teknologi Bandung, Disebut juga\u00a0Hendra Agus Prastyo\u00a0dan\u00a0Dhani Herdiwijaya, mengungkap alasan pemilihan Lembang sebagai Tempat\u00a0observatorium itu.<\/p>\n<p>&#8220;Pada<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span><span class=\"s2\"\/>awal<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span><span class=\"s2\"\/>pendirian<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span><span class=\"s2\"\/>Observatorium<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span><span class=\"s2\"\/>Bosscha,<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span><span class=\"s2\"\/>Lembang<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span><span class=\"s2\"\/>dipilih<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span><span class=\"s2\"\/>menjadi<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span><span class=\"s2\"\/>Tempat observatorium<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>karena<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>pada<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span><span class=\"s2\"\/>waktu<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>itu,<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>Lembang<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span><span class=\"s2\"\/>merupakan<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>kawasan<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>perbukitan<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>yang<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>dikelilingi<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span><span class=\"s2\"\/>oleh<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>perkebunan teh dan memiliki langit malam yang gelap, sehingga ideal untuk pengamatan astronomi,&#8221; tutur mereka, dalam makalah\u00a0&#8216;Analisis Dinamika Polusi Cahaya di Sekitar Observatorium Bosscha Merujuk pada Citra Satelit VIIRS-DNB&#8217; (2018).<\/p>\n<p>&#8220;Ditambah lagi dengan, Tempat<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>Observatorium Bosscha merupakan Tempat<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span><span class=\"s2\"\/>yang<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>strategis karena<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>mencakup sebagian besar area langit<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>utara dan<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>selatan, mengingat<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>hanya sedikit<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>observatorium-observatorium di<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>dunia<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>yang berada<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>di wilayah khatulistiwa.&#8221;<span class=\"Apple-converted-space\"\/><\/p>\n<p>Hendra\u00a0dan Dhani\u00a0kemudian menyebut kondisi langit\u00a0malam itu makin parah seiring pembangunan kota, setidaknya mulai akhir 1980.<\/p>\n<p>&#8220;Kondisi langit malam di Observatorium Bosscha mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan adanya perkembangan kota-kota di sekitar Observatorium Bosscha, yaitu Kota Lembang dan Kota Bandung,&#8221; kata mereka.<\/p>\n<p>Perkembangan kota-kota tersebut menyebabkan perubahan penggunaan lahan di<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>sekitar<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>Observatorium<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span><span class=\"s2\"\/>Bosscha,<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>yaitu<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span><span class=\"s2\"\/>Kawasan<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>Bandung<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span><span class=\"s2\"\/>Utara<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>dari<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span><span class=\"s2\"\/>kawasan<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>hutan,<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span><span class=\"s2\"\/>perkebunan,<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>dan peternakan,<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>menjadi<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>kawasan<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>lahan<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>terbangun<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>(permukiman<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>dan<span class=\"Apple-converted-space\"> <\/span>perhotelan).<\/p>\n<p>Kawasan<span class=\"Apple-converted-space\"> permukiman dan hotel ini <\/span>makin meluas dan\u00a0membuat penggunaan cahaya artifisal untuk penerangan di malam hari makin masif. Efeknya, observatorium makin terganggu.<\/p>\n<p>&#8220;Pe<span class=\"s2\">ningkatan jumlah cahaya artifisal untuk penerangan di malam hari tersebut menyebabkan polusi cahaya dan <\/span>menghasilkan kubah cahaya di atas kota-kota sekitar Observatorium Bosscha,&#8221; tutur para penulis.<\/p>\n<h2 id=\"batas-kawasan\">Batas kawasan<\/h2>\n<p>Memang, pemerintah Pernah memberi sedikit regulasi buat melindungi observatorium yang\u00a0operasionalnya\u00a0ada di bawah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB itu.<\/p>\n<p>Berikut dua peraturan yang secara eksplisit mencantumkan Observatorium Bosscha sebagai kawasan dan institusi yang Wajib dilindungi fisik maupun fungsinya:<\/p>\n<ul>&#13;<\/p>\n<li><span class=\"s1\"\/>Peraturan Daerah Provinsi Jabar No. 2 Tahun 2016\u00a0tentang Pedoman Pengendalian Kawasan Bandung Utara Sebagai Kawasan Strategis Provinsi Jabar.<\/li>\n<p>&#13;<\/p>\n<li><span class=\"s1\"\/>Peraturan Kepala Negara Republik Indonesia No. 45 Tahun 2018 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung.<\/li>\n<p>&#13;\n<\/ul>\n<p>Sekalipun, aturan ini\u00a0hanya\u00a0punya keterbatasan dalam hal radius\u00a0&#8216;kepungan&#8217; permukiman terhadap observatorium.<\/p>\n<p>Perda No. 2 Tahun 2016, misalnya, memberi pembatasan jenis lampu yang dipergunakan untuk penerangan luar, lampu hias, atau lampu iklan, dan mencantumkan kewajiban buat melindungi lampu-lampu luar Supaya bisa tidak menyebar ke langit.<\/p>\n<p>Masalahnya,\u00a0zonasi\u00a0Observatorium Bosscha, yang menjadi wilayah pembatasan itu, hanya terdiri dari zona inti dan zona dengan radius 2,5 km dari observatorium.<\/p>\n<p>Larangan\u00a0pendirian rumah susun, perumahan, dan bangunan tinggi pun hanya diterapkan\u00a0pada radius 1\u00a0km dari Observatorium Bosscha.<\/p>\n<p>Sementara, menurut penelitian Hendra\u00a0dan Dhani\u00a0itu, Bosscha\u00a0Pernah mengalami &#8216;kelumpuhan&#8217; akibat peningkatan luas polusi cahaya kategori Baru saja dan tinggi dari\u00a0arah selatan, yaitu Kota Bandung.<\/p>\n<p>Bosscha\u00a0sendiri\u00a0berjarak sekitar 15 km dari wilayah pusat kota Bandung.<\/p>\n<p>&#8220;Langit malam pada arah azimuth 90-270 derajat di Observatorium Bosscha relatif Pernah tidak ideal sebagai Tempat pengamatan objek-objek astronomi,&#8221; kata peneliti.<\/p>\n<p>[Gambas:Video CNN]<\/p>\n<p> <strong>(tim\/arh)<\/strong><\/p>\n<p>                    <!-- s:banner newstag --><\/p>\n<p><!-- \/4905536\/CNN_desktop\/cnn_teknologi\/newstag --><\/p>\n<p>                    <!-- e:banner newstag --><\/p>\n<p>                    <!-- s:fokus  --><br \/>\n                    <!-- s: cb fokus --><\/p>\n<p><!-- e: cb fokus --><\/p>\n<p>                    <!-- e:fokus  --><\/p><\/div>\n<p><script>\n    !function(f,b,e,v,n,t,s){if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?\n    n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};if(!f._fbq)f._fbq=n;\n    n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0';n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;\n    t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window,\n    document,'script','\/\/connect.facebook.net\/en_US\/fbevents.js');\n    fbq('init', '1047303935301449');\n    fbq('track', \"PageView\");\n    <\/script><\/p>\n<p>Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, CNN Indonesia &#8212; Kawasan Lembang, Bandung Barat,\u00a0dulunya punya kondisi langit malam yang gelap tanpa&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5465,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[32],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-5464","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-teknologi"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v24.6 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Gelapnya Langit Lembang 100 Tahun Lalu, Alasan Bosscha Ada - Wamena<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Gelapnya Langit Lembang 100 Tahun Lalu, Alasan Bosscha Ada - Wamena\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/wamena.id\/?p=5464\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Gelapnya Langit Lembang 100 Tahun Lalu, Alasan Bosscha Ada - Wamena\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Gelapnya Langit Lembang 100 Tahun Lalu, Alasan Bosscha Ada - Wamena\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/wamena.id\/?p=5464\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Wamena\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-07-16T11:05:48+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-07-16T11:05:51+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/wamena.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/observatorium-bosscha-di-bandung-3_169.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"650\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"365\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Roysi Kyosi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Roysi Kyosi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/wamena.id\/?p=5464#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/wamena.id\/?p=5464\"},\"author\":{\"name\":\"Roysi Kyosi\",\"@id\":\"https:\/\/wamena.id\/#\/schema\/person\/f26e2acdc60768612ad1fa57d27d4ea9\"},\"headline\":\"Gelapnya Langit Lembang 100 Tahun Lalu, Alasan Bosscha Ada\",\"datePublished\":\"2024-07-16T11:05:48+00:00\",\"dateModified\":\"2024-07-16T11:05:51+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/wamena.id\/?p=5464\"},\"wordCount\":663,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/wamena.id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/wamena.id\/?p=5464#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/wamena.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/observatorium-bosscha-di-bandung-3_169.jpeg\",\"articleSection\":[\"Teknologi\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/wamena.id\/?p=5464\",\"url\":\"https:\/\/wamena.id\/?p=5464\",\"name\":\"Gelapnya Langit Lembang 100 Tahun Lalu, Alasan Bosscha Ada - Wamena\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/wamena.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/wamena.id\/?p=5464#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/wamena.id\/?p=5464#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/wamena.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/observatorium-bosscha-di-bandung-3_169.jpeg\",\"datePublished\":\"2024-07-16T11:05:48+00:00\",\"dateModified\":\"2024-07-16T11:05:51+00:00\",\"description\":\"Gelapnya Langit Lembang 100 Tahun Lalu, Alasan Bosscha Ada - Wamena\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/wamena.id\/?p=5464#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/wamena.id\/?p=5464\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/wamena.id\/?p=5464#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/wamena.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/observatorium-bosscha-di-bandung-3_169.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/wamena.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/observatorium-bosscha-di-bandung-3_169.jpeg\",\"width\":650,\"height\":365},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/wamena.id\/?p=5464#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/wamena.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Gelapnya Langit Lembang 100 Tahun Lalu, Alasan Bosscha Ada\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/wamena.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/wamena.id\/\",\"name\":\"Wamena\",\"description\":\"Berita Nasional Terbaru Dan Menguak Informasi Dari Tanah Papua\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/wamena.id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/wamena.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/wamena.id\/#organization\",\"name\":\"Wamena\",\"url\":\"https:\/\/wamena.id\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/wamena.id\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/wamena.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/wamena.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/wamena.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/wamena.png\",\"width\":278,\"height\":48,\"caption\":\"Wamena\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/wamena.id\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/wamena.id\/#\/schema\/person\/f26e2acdc60768612ad1fa57d27d4ea9\",\"name\":\"Roysi Kyosi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/wamena.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9fb99f4b94a5c0615a6d8645b8e65a2b6ab8dd0a53f4ce4a4db79038566d45b0?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9fb99f4b94a5c0615a6d8645b8e65a2b6ab8dd0a53f4ce4a4db79038566d45b0?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Roysi Kyosi\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/wamena.id\"],\"url\":\"https:\/\/wamena.id\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Gelapnya Langit Lembang 100 Tahun Lalu, Alasan Bosscha Ada - Wamena","description":"Gelapnya Langit Lembang 100 Tahun Lalu, Alasan Bosscha Ada - Wamena","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/wamena.id\/?p=5464","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Gelapnya Langit Lembang 100 Tahun Lalu, Alasan Bosscha Ada - Wamena","og_description":"Gelapnya Langit Lembang 100 Tahun Lalu, Alasan Bosscha Ada - Wamena","og_url":"https:\/\/wamena.id\/?p=5464","og_site_name":"Wamena","article_published_time":"2024-07-16T11:05:48+00:00","article_modified_time":"2024-07-16T11:05:51+00:00","og_image":[{"width":650,"height":365,"url":"https:\/\/wamena.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/observatorium-bosscha-di-bandung-3_169.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Roysi Kyosi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Roysi Kyosi","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/wamena.id\/?p=5464#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/wamena.id\/?p=5464"},"author":{"name":"Roysi Kyosi","@id":"https:\/\/wamena.id\/#\/schema\/person\/f26e2acdc60768612ad1fa57d27d4ea9"},"headline":"Gelapnya Langit Lembang 100 Tahun Lalu, Alasan Bosscha Ada","datePublished":"2024-07-16T11:05:48+00:00","dateModified":"2024-07-16T11:05:51+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/wamena.id\/?p=5464"},"wordCount":663,"publisher":{"@id":"https:\/\/wamena.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/wamena.id\/?p=5464#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/wamena.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/observatorium-bosscha-di-bandung-3_169.jpeg","articleSection":["Teknologi"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/wamena.id\/?p=5464","url":"https:\/\/wamena.id\/?p=5464","name":"Gelapnya Langit Lembang 100 Tahun Lalu, Alasan Bosscha Ada - Wamena","isPartOf":{"@id":"https:\/\/wamena.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/wamena.id\/?p=5464#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/wamena.id\/?p=5464#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/wamena.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/observatorium-bosscha-di-bandung-3_169.jpeg","datePublished":"2024-07-16T11:05:48+00:00","dateModified":"2024-07-16T11:05:51+00:00","description":"Gelapnya Langit Lembang 100 Tahun Lalu, Alasan Bosscha Ada - Wamena","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/wamena.id\/?p=5464#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/wamena.id\/?p=5464"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/wamena.id\/?p=5464#primaryimage","url":"https:\/\/wamena.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/observatorium-bosscha-di-bandung-3_169.jpeg","contentUrl":"https:\/\/wamena.id\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/observatorium-bosscha-di-bandung-3_169.jpeg","width":650,"height":365},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/wamena.id\/?p=5464#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/wamena.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Gelapnya Langit Lembang 100 Tahun Lalu, Alasan Bosscha Ada"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/wamena.id\/#website","url":"https:\/\/wamena.id\/","name":"Wamena","description":"Berita Nasional Terbaru Dan Menguak Informasi Dari Tanah Papua","publisher":{"@id":"https:\/\/wamena.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/wamena.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/wamena.id\/#organization","name":"Wamena","url":"https:\/\/wamena.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/wamena.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/wamena.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/wamena.png","contentUrl":"https:\/\/wamena.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/wamena.png","width":278,"height":48,"caption":"Wamena"},"image":{"@id":"https:\/\/wamena.id\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/wamena.id\/#\/schema\/person\/f26e2acdc60768612ad1fa57d27d4ea9","name":"Roysi Kyosi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/wamena.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9fb99f4b94a5c0615a6d8645b8e65a2b6ab8dd0a53f4ce4a4db79038566d45b0?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/9fb99f4b94a5c0615a6d8645b8e65a2b6ab8dd0a53f4ce4a4db79038566d45b0?s=96&d=mm&r=g","caption":"Roysi Kyosi"},"sameAs":["https:\/\/wamena.id"],"url":"https:\/\/wamena.id\/?author=1"}]}},"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wamena.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5464","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wamena.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wamena.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wamena.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wamena.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5464"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/wamena.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5464\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5466,"href":"https:\/\/wamena.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5464\/revisions\/5466"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wamena.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5465"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wamena.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5464"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wamena.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5464"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wamena.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5464"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/wamena.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=5464"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}