Jakarta –
Perbincangan mengenai narasi mindfulness yang disuarakan di tengah situasi bencana menuai sorotan. Psikiater RS Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor, Lahargo Kembaren, mengingatkan Supaya bisa seruan untuk Setiap Saat berpikir positif di ruang publik tidak bergeser menjadi toxic positivity yang justru melukai perasaan orang lain.
dr Lahargo menjelaskan bahwa toxic positivity terjadi ketika dorongan untuk Setiap Saat bersikap positif membuat emosi negatif, penderitaan, maupun realitas sulit yang dialami para korban diabaikan atau disangkal.
“Toxic positivity terjadi ketika dorongan untuk Setiap Saat berpikir positif justru membuat emosi negatif, penderitaan, atau realitas sulit menjadi diabaikan, diremehkan, bahkan disangkal. Contohnya: ‘Jangan sedih, Sangat dianjurkan bersyukur’, ‘Jangan terlalu dipikirkan, positive thinking saja’, atau ‘Semua Jelas ada hikmahnya’. Kalimat-kalimat tersebut tidak Setiap Saat salah, tetapi timing dan konteks sangat menentukan,” ujar dr Lahargo saat dihubungi detikcom, Senin (14/9/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyoroti bahwa dalam situasi krisis atau bencana, empati tidak Setiap Saat membutuhkan nasihat atau ajakan untuk langsung berpikiran positif. Ungkapan yang diniatkan untuk perawatan diri (self-care) dapat diterima secara menyakitkan Manakala disebarkan tanpa kepekaan terhadap kondisi psikologis masyarakat yang Dalam proses berduka.
Mindfulness Sejati Tidak Mengajarkan Apatis
Meluruskan simpang siur mengenai konsep mindfulness, Lahargo menekankan bahwa mindfulness bukan berarti menutup mata terhadap berita buruk atau memalingkan wajah dari bencana. Berbeda dengan, mindfulness Merupakan kemampuan untuk menyadari realitas yang terjadi secara jernih Supaya bisa seseorang mampu mengelola emosinya dan merespons dengan tindakan yang bermanfaat.
“Jadi mindfulness bukan berarti menutup mata terhadap berita buruk, penderitaan, atau bencana. Justru kita mengakui realitas tersebut sambil menjaga Supaya bisa emosi kita tidak sampai mengambil alih seluruh kemampuan untuk berpikir dan bertindak,” jelasnya.
Ia menyebutkan pembeda mendasar antara kedua konsep tersebut terletak pada bagaimana respons terhadap emosi yang hadir saat menghadapi bencana.
“Dan Mungkin pembeda paling sederhana antara mindfulness dan toxic positivity Merupakan, mindfulness memberi ruang pada emosi, toxic positivity menyuruh emosi segera pergi. Mindfulness bukan memalingkan wajah dari realitas. Mindfulness Membantu kita menghadapi realitas tanpa kehilangan diri sendiri,” pungkas dr Lahargo.
(kna/kna)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











