Inggris Gelontorkan Rp190 Triliun untuk Jet Tempur Generasi Keenam, Kejar Amerika dan China


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah Inggris mengalokasikan dana sebesar 8,6 miliar poundsterling atau sekitar Rp190 triliun untuk empat tahun ke depan guna mempercepat pengembangan Global Combat Air Programme (GCAP), proyek pesawat tempur generasi keenam yang dikerjakan bersama Jepang dan Italia.

Komitmen pendanaan tersebut diumumkan Kementerian Lini belakang Inggris dalam Defence Investment Plan yang dirilis Selasa. Perdana Menteri Keir Starmer menegaskan Penanaman Modal itu merupakan bagian dari upaya membangun kembali industri dirgantara nasional sekaligus memastikan Inggris tetap memiliki kemampuan tempur udara kelas dunia.

“Pesawat tempur siluman generasi keenam ini Akan segera mengamankan langit kita selama beberapa dekade mendatang,” kata Starmer saat meluncurkan rencana Penanaman Modal Lini belakang pada Selasa 30 Juni 2026, sebagaimana dilaporkan situs resmi Pemerintah Inggris.

Program tersebut Akan segera membiayai tahap konsep Sampai saat ini desain pesawat yang di Inggris dikenal sebagai Tempest, yang diproyeksikan menggantikan armada Eurofighter Typhoon milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) mulai paruh kedua dekade 2030-an.

Selama masa transisi, pemerintah Inggris Bahkan Akan segera terus memodernisasi Typhoon Sampai saat ini dekade 2040-an Supaya bisa tetap mampu menjaga Lini belakang udara nasional sebelum Tempest resmi beroperasi.

Selain pesawat berawak, GCAP dirancang terintegrasi dengan sistem pesawat nirawak berbasis kecerdasan buatan. Inggris Bahkan mengalokasikan dana terpisah untuk mengembangkan Collaborative Combat Aircraft (CCA), Didefinisikan sebagai drone tempur otonom yang nantinya Akan segera terbang berdampingan dengan pesawat tempur berawak.

Penanaman Modal senilai 8,6 miliar poundsterling menjadi salah satu pos anggaran terbesar dalam rencana Lini belakang Inggris dan diperkirakan menopang ribuan lapangan kerja di sektor dirgantara. Jepang dan Italia Bahkan menyiapkan Penanaman Modal masing-masing untuk menopang proyek yang sama.

Belajar dari Kegagalan FCAS

Besarnya Penanaman Modal tersebut Bahkan mencerminkan kehati-hatian Inggris setelah melihat berbagai hambatan yang dialami proyek Future Combat Air System (FCAS) milik Prancis, Jerman, dan Spanyol.

FCAS selama beberapa tahun terakhir menghadapi berbagai persoalan mulai dari perebutan pembagian teknologi, kepemimpinan industri, Sampai saat ini tarik-menarik kepentingan politik antarpemerintah. Berbagai penundaan itu diperkirakan membuat nilai ekonomi proyek berisiko membengkak Sampai saat ini lebih dari 100 miliar euro atau sekitar Rp1.800 triliun, sekaligus menggerus daya saing industri Lini belakang Eropa.

Pengalaman tersebut menjadi peringatan bahwa pengembangan pesawat tempur generasi keenam merupakan proyek berbiaya sangat besar dengan risiko teknis dan politik yang tinggi.

 


Loading…



Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

พัฒนาทักษะการเล่นของคุณไปกับ PG SLOT เพื่อเรียนรู้ฟีเจอร์ใหม่ๆ ก่อนใครได้แล้ววันนี้