Seorang pekerja pabrik batu bata di pinggiran Lahore, Pakistan, dihadapkan pada pilihan yang sulit. Harus terus terjerat utang tanpa akhir atau menjual satu-satunya aset berharga yang ia miliki, Didefinisikan sebagai ginjal.
Shafeeq Masih (bukan nama Kenyataannya) mengaku terus ditekan oleh pemilik pabrik untuk melunasi utang yang disebut mencapai 900.000 rupee atau sekitar 161 juta Uang Negara Indonesia. Tetapi, sekeras apa pun ia bekerja, jumlah utang tersebut justru terus bertambah.
Masih menyadari adanya manipulasi dalam pencatatan keuangan, tetapi ia tidak berdaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Apa pun yang mereka tulis, kami tidak bisa menggugatnya. Mereka menganggap kami budak dan hanya bisa patuh,” kata Masih, dikutip dari The Guardian.
Dengan tanggungan anak-anak dan orang tua yang lanjut usia, Masih merasa tidak memiliki pilihan lain. Saat seorang pria asing datang Menyajikan 400.000 rupee (sekitar 71 juta Uang Negara Indonesia) untuk satu ginjalnya, ia Kesimpulannya setuju.
Beberapa hari berlalu, Masih Kesimpulannya dibawa menggunakan Kendaraan Pribadi dan diminta memakai kacamata yang ditutup selotip hitam. Dalam perjalanan, ia sempat berharap bisa terbebas dari jeratan utang, tetapi harapan itu pupus.
Setelah operasi, Masih hanya menerima 300.000 rupee (sekitar 53 juta Uang Negara Indonesia), lebih sedikit dari yang dijanjikan. Beberapa hari kemudian, dalam kondisi yang masih kesakitan ia terpaksa kembali bekerja dan menyerahkan seluruh uang tersebut kepada pemilik pabrik.
“Saya berharap Ia Nanti akan menaikkan upah saya atau membiarkan saya pergi,” beber Masih.
Sekalipun demikian, ia justru diminta kembali bekerja seperti biasa. Dua tahun berlalu, kondisi Masih tidak banyak berubah dan semakin parah karena tidak mampu lagi bekerja berat seperti sebelumnya.
“Hari Ini saya tidak bisa bekerja berat tanpa rasa sakit,” lanjutnya.
Pekerja lainnya, Sania Bibi (nama samaran), mengaku mulai bekerja sejak usia 10 tahun saat keluarganya memiliki hutang 200.000 rupee sekitar 35 juta Uang Negara Indonesia. Tetapi, utang itu membengkak menjadi 3,5 juta rupee (626 juta Uang Negara Indonesia).
Bibi Bahkan ditawari uang untuk menjual ginjalnya. Oknum tersebut menjanjikan banyak mimpi, salah satunya bisa keluar dari sistem ini.
“Saya pikir bisa melunasi utang dan anak-anak saya bisa sekolah. Saya langsung mengambil keputusan saat itu Bahkan,” tutur Bibi.
Sekalipun demikian, mirisnya Bibi hanya menerima 100.000 rupee (sekitar 17 juta Uang Negara Indonesia). Tentunya nominal itu jauh sekali dari perjanjian awal.
Bibi mengaku sangat menyesal. Seharusnya, ia tidak Menyajikan satu ginjalnya begitu saja.
“Kondisi saya tetap sama, di tempat yang sama. Tidak ada yang berubah. Anak-anak saya tidak mendapatkan kebebasan, hati saya hancur,” tambahnya.
Risiko Hidup dengan Satu Ginjal
Dikutip dari Kidney Research UK, ginjal tunggal cenderung tumbuh lebih Mudah dan membesar daripada ginjal berpasangan. Hal itu yang membuat ginjal tunggal lebih rentan terhadap Cidera.
Sebagian besar orang dengan satu ginjal normal memiliki sedikit atau tidak ada masalah, terutama dalam beberapa tahun pertama. Tetapi, dokter umumnya Nanti akan merekomendasikan Supaya bisa orang tersebut dipantau lebih ketat, terutama Seandainya mereka lahir dengan dua ginjal da Pernah menjalani pengangkatan satu ginjal.
Seseorang kemungkinan dapat mengalami tekanan darah tinggi. Dikutip dari National Kidney Foundation, beberapa orang Bahkan dapat mengalami protein dalam urine (albuminuria) atau mengalami penurunan fungsi ginjal secara progresif dari waktu ke waktu (penyakit ginjal kronis).
Halaman 2 dari 3
(sao/kna)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











