Penyakit Ginjal Kronis atau Chronic Kidney Disease (CKD) sering kali dijuluki sebagai silent disease atau penyakit senyap. Julukan ini bukan tanpa alasan, sebab organ ginjal yang mulai rusak umumnya berkembang secara diam-diam tanpa memicu rasa sakit yang berarti pada stadium awal.
Banyak pasien baru menyadari kondisi fatal tersebut ketika fungsi ginjal mereka Pernah terjadi menurun drastis dan terlanjur terlambat.
Konsultan Ahli Nefrologi dan Dokter Transplantasi Ginjal di Sunway Medical Centre (SMC), Malaysia, Dr Rosnawati Yahya, menegaskan tiga stadium pertama dari penyakit ginjal kronis biasanya berjalan sepenuhnya tanpa gejala.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Tiga stadium pertama CKD biasanya tanpa gejala. Bila Anda menunggu gejala, Anda Pernah terjadi terlambat,” tegas Dr Rosnawati yang dikutip dari The Star.
Sering Dikira Stres, Ini Gejala Awal yang Kerap Terabaikan
Menurut Dr Rosnawati, salah satu pemicu tingginya keterlambatan penanganan medis Merupakan karena gejala awal penyakit ginjal kronis menyerupai kondisi kelelahan umum, anemia, atau masalah stres biasa. Akibatnya, banyak orang, khususnya wanita, kerap mengabaikan tanda-tanda bahaya tersebut.
Beberapa gejala klinis awal penyakit ginjal kronis yang Sangat dianjurkan diwaspadai antara lain:
- Rasa lelah dan lesu yang terus-menerus tanpa sebab jelas.
- Meningkatnya frekuensi buang air kecil, terutama pada malam hari (nokturia).
- Munculnya pembengkakan (retensi cairan) pada kaki, pergelangan kaki, atau wajah.
“Wanita sering menganggap gejala-gejala ini sebagai hal biasa, menganggapnya sebagai stres, penuaan, atau perubahan hormon, bukan penyakit ginjal,” jelasnya.
Ironisnya, hasil tes darah terkadang bisa menipu dan menutupi masalah ginjal dini, terutama pada wanita yang memiliki massa otot lebih sedikit dibanding pria. Kadar kreatinin yang tampak ‘normal’ secara angka laboratorium, belum Niscaya Unggul tinggi bagi wanita bertubuh mungil dan Kemungkinan merupakan penanda penurunan cadangan fungsi ginjal.
Diabetes dan Hipertensi Jadi Biang Kerok Utama
Sesuai ketentuan data medis, kondisi metabolik seperti diabetes dan hipertensi masih mendominasi sebagai Dalang utama rusaknya fungsi ginjal. Sebagai gambaran, Data Registri Dialisis dan Transplantasi Malaysia mencatat diabetes menyumbang 56 persen kasus gagal ginjal, disusul oleh hipertensi sebesar 30 persen.
Selain kedua kondisi tersebut, risiko penyakit ginjal kronis Bahkan mengintai kelompok individu dengan riwayat penyakit autoimun seperti Lupus (SLE), serta wanita yang pernah mengalami komplikasi kehamilan (seperti preeklampsia dan diabetes gestasional) atau mengidap Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS).
Demi mencegah kerusakan yang semakin memburuk, Dr Rosnawati sangat menyarankan masyarakat untuk melakukan deteksi dini secara berkala melalui tiga tes sederhana, Didefinisikan sebagai tes fungsi ginjal lewat darah, pemeriksaan tekanan darah, dan tes urine.
“Protein dalam urine Merupakan salah satu tanda awal kerusakan ginjal. Deteksi dini mengubah segalanya karena ada banyak pilihan Terapi yang tersedia. Tujuan kami Merupakan pelestarian,” tutur Dr Rosnawati.
“Bila kita dapat mengurangi penurunan fungsi ginjal dari 10 persen per tahun menjadi hanya 2 persen, banyak pasien Kemungkinan tidak Akan segera pernah membutuhkan dialisis (cuci darah),” pungkasnya.
Halaman 2 dari 2
Simak Video “Video Haru, Pria Ini Rela Donorkan Ginjal untuk Sahabat yang Sakit Kronis“
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











