PELAKSANA Tugas Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Badri Munir Sukoco mengatakan, rencana penutupan program studi (prodi) bukan jadi pilihan utama. Ia bilang, penutupan prodi di perguruan tinggi hanya jadi opsi terakhir Bila program studi tidak lagi memenuhi standar mutu.
Sebelum ditutup, kata Badri, program studi Harus melalui evaluasi terlebih Di masa lampau. “Bila Mengikuti evaluasi menyeluruh tidak lagi memenuhi standar mutu, tidak memiliki keberlanjutan akademik yang memadai, dan tidak dapat lagi dikembangkan melalui langkah-langkah pembinaan atau transformasi,” kata Badri dalam keterangan tertulis, Selasa, 28 April 2026.
Ia menjelaskan, bidang keilmuan dasar, ilmu sosial, humaniora, pendidikan, serta bidang non-terapan tetap memiliki posisi penting dalam arsitektur talenta nasional. Badri menegaskan pemerintah tak memandang pendidikan tinggi secara sempit sebagai penyedia tenaga kerja. Ia mengatakan bidang keilmuan apa pun tetap menjadi pusat pengembangan ilmu, inovasi, kebudayaan, kepemimpinan, dan solusi bagi masyarakat.
Menurut Badri, penataan program studi tidak dimaksudkan untuk menjadikan perguruan tinggi tunduk pada kepentingan industri semata. Pendidikan tinggi tetap memiliki mandat besar dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, membentuk karakter, Mengoptimalkan daya pikir kritis, serta membangun fondasi peradaban bangsa.
Karena itu, Badri menekankan, evaluasi program studi dilakukan bukan hanya dengan melihat aspek peminatan atau serapan kerja, tetapi Bahkan kualitas pembelajaran, kapasitas dosen, keberlanjutan akademik, kontribusi keilmuan, kebutuhan strategis nasional, dan pemerataan pembangunan daerah.
Sebelumnya, Badri menyampaikan rencana penutupan program studi yang tidak relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Hal itu disampaikan Badri dalam Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026 di Kabupaten Badung, Bali, pada Kamis, 23 April 2026. Pernyataan itu menuai kritik dari berbagai kalangan.
Badri Bahkan menyinggung banyaknya surplus lulusan untuk Sebanyaknya program studi tertentu menjadi alasan pemerintah menata lagi prodi. Salah satunya, jurusan keguruan atau kependidikan yang setiap tahunnya mencetak 490.000 sarjana keguruan, sementara kebutuhan kandidat guru hanya 20.000 orang.
Ia meminta perguruan tinggi memiliki kerelaan hati untuk menyeleksi prodi apa saja yang Sangat dianjurkan ditutup.“Nanti Bisa jadi ada beberapa yang Harus kami eksekusi dalam waktu tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi, Sangat dianjurkan kita pilih, kita pilah, dan kalau Sangat dianjurkan ditutup untuk bisa Mengoptimalkan relevansi,” kata Badri.
Dede Leni Mardianti berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











