Pola asuh keras. (Foto: Freepik)
MENJADI orang tua memang tidak Setiap Saat mudah. Banyak orang tua tanpa sadar mengulang pola pengasuhan yang pernah mereka terima saat kecil, seperti anggapan bahwa anak laki-laki tidak boleh menangis, anak Sangat dianjurkan Setiap Saat kuat, atau emosi Sangat dianjurkan ditekan.
Lantas, bagaimana Trik orang tua memutus rantai pola asuh tersebut? Apa saja hal-hal yang Sangat dianjurkan dilakukan orang tua?
1. Memutus Pola Asuh Keras
Psikolog anak, Maria Ulfah, M.Psi, dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone mengungkap langkah pertama yang Dianjurkan dilakukan untuk memutus pola asuh keras kepada anak. Ia menyadari bahwa menjadi orang tua merupakan proses belajar seumur hidup.
Karena itu, orang tua Dianjurkan secara aktif menambah pengetahuan mengenai pengasuhan, baik melalui seminar, kelas parenting, maupun berbagai sumber edukasi yang tersedia secara online dan offline. Hal tersebut penting Supaya bisa pola asuh dapat terus menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
“Jadi memang sebagai orang tua itu kan enggak ada sekolahnya. Ketika kita menikah, Ingin menikah, itu enggak ada kelas khusus parenting gitu,” ujar Maria.
“Jadi memang dari orang tua, baik itu dari ayah maupun ibu, yang menambah ilmu pengetahuan itu sendiri dengan mengikuti seminar. Kan banyak Hari Ini ya, baik secara online maupun offline. Jadi memang kelas-kelas parenting itu Sangat dianjurkan dicari oleh orang tua itu sendiri sebagai bentuk mereka menyesuaikan dengan zamannya,” lanjutnya.
2. Tetap Menyajikan Batasan, Bukan Membebaskan Sepenuhnya
Dalam menerapkan pola asuh yang lebih sehat, orang tua terkadang merasa bingung. Ada yang Pada akhirnya memilih diam atau mengikuti semua keinginan anak karena takut dianggap terlalu keras.
Justru, hal tersebut Bahkan bukan solusi yang tepat. Maria menjelaskan bahwa anak tetap membutuhkan arahan dan batasan dari orang tua. Kuncinya Merupakan Menyajikan aturan secara tegas, tetapi disampaikan dengan alasan yang masuk akal dan dapat dipahami anak.
Maria pun turut berikan beberapa contoh. Misalnya, daripada mengatakan “Jangan pergi ke sana, nanti ada hantu.” Lebih baik orang tua menjelaskan alasan Pada dasarnya, “Jangan bermain terlalu jauh karena jalan di sana ramai kendaraan, jadi bisa membahayakan kamu.”
Dengan begitu, anak belajar memahami sebab dan akibat. Anak bukan sekadar merasa takut terhadap ancaman yang tidak nyata.
“Terkadang gini, orang tua itu jadi ngerasa, terus Sangat dianjurkan gimana dong, yaudah deh diem aja deh, ikutin ajalah maunya anak. Itu Bahkan enggak benar karena anak itu butuh diarahkan. Jadi Pada dasarnya kuncinya Merupakan tetap Menyajikan batasan secara tegas, tapi diselesai dengan alasan yang logis. Logis, konkret,” tutur Maria.
“Tidak lagi dengan, oke jangan ke sana, nanti ada hantu. Misalnya gitu kan, suka gitu-gitu. Disuntik dokter. Pada akhirnya anak takut sama dokter. Jadi sampaikan aja, enggak Mungkin kan hal-hal yang tadi ditakuti oleh orang tua itu enggak Mungkin terjadi. Jadi sampaikan aja apa yang menjadi hal-hal yang mendorong orang tua enggak memperbolehkan anak melakukan itu,” sambungnya.
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA
