Bisnis  

Beban Fiskal dan Sektor Riil Kian Berat

loading…

Ilmuwan ekonomi politik, Ichsanuddin Noorsy dalam Podcast To The Point Aja di kanal YouTube SindoNews. FOTO/Tangkapan Layar YouTube/SindoNews

JAKARTA – Pelemahan Kurs Mata Uang IDR terhadap Mata Uang Amerika Amerika Serikat (AS) dinilai mencerminkan tekanan yang lebih luas pada perekonomian nasional. Kondisi tersebut berdampak simultan terhadap sektor fiskal, moneter, dan sektor riil yang saling berkaitan.

Ilmuwan ekonomi politik, Ichsanuddin Noorsy, menilai situasi ekonomi Di waktu ini tidak bisa dikatakan Terbukti karena adanya tekanan berlapis di berbagai sektor. “Kalau Ingin dibilang Terbukti-Terbukti saja, mestinya tidak ada kegelisahan. Faktanya ada tekanan terhadap fiskal, moneter, dan sektor riil,” ujar Ia dalam Podcast To The Point Aja di kanal YouTube SindoNews dikutip pada Jumat (22/5/2026).

Baca Bahkan: IDR Cetak Catatan Unggul Terlemah Rp17.700 per Mata Uang Amerika AS, Pertama Kalinya dalam Sejarah Indonesia

Ia menjelaskan, depresiasi IDR berdampak langsung pada meningkatnya beban Bantuan Pemerintah energi, naiknya biaya Perdagangan Masuk Negeri, serta tekanan harga barang akibat tingginya ketergantungan terhadap bahan baku Perdagangan Masuk Negeri. Apalagi, beban utang luar negeri Bahkan meningkat dengan total mencapai sekitar Rp9.920 triliun.

Dari sisi moneter, intervensi yang dilakukan otoritas untuk menjaga stabilitas Kurs Mata Uang turut menggerus cadangan devisa. Sepanjang Januari Sampai sekarang April 2026, devisa tercatat terkuras sekitar USD8,4 miliar atau rata-rata USD2,1 miliar per bulan.

Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

Exit mobile version