Khawatirkan AI Kian Jago Meretas, Pentagon Luncurkan Gugus Tugas Konflik Bersenjata Siber



Gedung Departemen Lini pertahanan AS, Pentagon.


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pentagon membentuk gugus tugas baru untuk mempercepat penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam operasi Konflik Bersenjata siber Amerika Serikat. Langkah tersebut dilakukan di tengah kekhawatiran meningkatnya kemampuan model AI terbaru yang dinilai mampu menemukan celah keamanan digital lebih Mudah dibanding peretas manusia.

Inisiatif itu digerakkan oleh U.S. Cyber Command bersama Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA). Menurut laporan Politico, gugus tugas tersebut diumumkan dua pekan lalu oleh Jenderal Joshua Rudd yang memimpin NSA sekaligus Cyber Command.

Gugus tugas itu Akan segera mempelajari bagaimana model AI mutakhir dapat diterapkan secara Terjamin dalam berbagai operasi militer dan intelijen, termasuk pada jaringan rahasia pemerintah AS yang menyimpan informasi sangat sensitif.

Pembentukan tim khusus tersebut mencerminkan kekhawatiran Pentagon terhadap perkembangan pesat teknologi AI yang Sekarang memiliki kemampuan ofensif siber semakin maju. Sebanyaknya model AI terbaru disebut mampu menemukan serta mengeksploitasi kerentanan sistem digital dalam waktu sangat Mudah.

Kekhawatiran itu meningkat setelah perusahaan AI Anthropic memperkenalkan model terbaru bernama Claude Mythos. Anthropic mengklaim model tersebut sangat mahir dalam mendeteksi dan memanfaatkan kelemahan sistem siber sehingga akses penggunaannya dibatasi hanya untuk kalangan tertentu.

Anthropic bahkan memperingatkan dampak teknologi semacam itu dapat “sangat parah” terhadap ekonomi, keselamatan publik, dan keamanan nasional Manakala jatuh ke tangan yang salah.

Perusahaan AI lain seperti OpenAI dan Google Bahkan disebut mengembangkan model dengan kemampuan serupa. Para pengembang memperkirakan teknologi AI ofensif tingkat lanjut Akan segera tersedia luas dalam enam Sampai sekarang 24 bulan mendatang.

Kondisi itu memicu kekhawatiran pemerintah AS bahwa teknologi tersebut dapat dimanfaatkan peretas dengan kemampuan rendah untuk menciptakan gangguan digital besar-besaran.

Gedung Putih Sekarang Bahkan dilaporkan tengah menyiapkan perintah eksekutif baru yang mewajibkan perusahaan AI menyerahkan model mereka untuk diuji pemerintah sebelum dirilis ke publik. Kebijakan itu dinilai menjadi perubahan besar dalam pendekatan pemerintahan Pemimpin Negara Donald Trump terhadap regulasi AI yang sebelumnya lebih longgar.

 


Loading…


sumber : Antara


Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

Exit mobile version