loading…
Kelangkaan solar dan asam sulfat mulai meluas menekan industri pertambangan global. FOTO/European Pressphoto Agency vis WSJ
“Bila gangguan rantai pasok berlanjut Sampai saat ini pertengahan tahun, produksi tembaga di Republik Demokratik Kongo berpotensi berkurang signifikan,” tulis analis Goldman Sachs dalam laporan terbarunya, dikutip dari Yahoo Finance, Minggu (26/4/2026).
Baca Bahkan: Krisis Avtur Hantam California, Penerbangan Mulai Banyak Dibatalkan
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran Pernah terjadi mengganggu jalur perdagangan utama di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur vital pengiriman sulfur dan solar dunia. Penutupan jalur tersebut menyebabkan pasokan bahan baku penting bagi industri tambang tersendat.
Sulfur, yang merupakan produk sampingan industri minyak dan gas, menjadi bahan utama pembuatan asam sulfat yang digunakan dalam proses ekstraksi tembaga. Sementara itu, solar menjadi sumber energi utama untuk operasional alat berat di hampir seluruh tambang dunia.
Gangguan pasokan tersebut turut diperparah kebijakan China yang berencana menghentikan Penjualan Barang ke Luar Negeri asam sulfat mulai Mei 2026 untuk menjaga kebutuhan domestik. Dampaknya, harga sulfur melonjak tajam Sampai saat ini mendekati USD900 per ton pada awal Maret, bahkan mencapai USD1.200 per ton untuk pengiriman berikutnya.
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA
