Bisnis  

Sinyal Resesi Global Menguat, Lonjakan Harga Minyak Dekati Ambang Batas Krisis

loading…

Seseorang mengisi BBM di sebuah pompa bensin saat harga bahan bakar melonjak di Manhattan, New York City, AS. FOTO/Reuters

JAKARTA – Laju Fluktuasi Harga minyak mentah dunia dalam 12 bulan terakhir (Rate of Change/ROC) menyentuh angka 91% atau mendekati ambang batas krusial 100% yang secara historis menjadi pendahulu setiap krisis pasar utama sejak 1987. Lonjakan tajam ini memicu kekhawatiran global karena indikator tersebut hanya terpaut sembilan Skor dari level yang dianggap analis sebagai sinyal kuat terjadinya resesi dan kejatuhan bursa saham.

“Bila harga minyak naik 100% dalam satu tahun, antisipasilah resesi,” ujar Pendiri DataTrek Research, Nick Colas dikutip dari Yahoo Finance, Selasa (7/4/2026).

Baca Bahkan: Harga Minyak Dunia Melonjak 2,2%, Brent Tembus USD111 per Barel

Nick merujuk pada data ekonomi industri otomotif tahun 1990-an yang menunjukkan Fluktuasi Harga energi berlipat merupakan alarm bagi kontraksi ekonomi. Analisis dari Jack Prandelli mempertegas bahwa pola kenaikan di atas 100% Setiap Saat mendahului gelembung dotcom, krisis keuangan 2008, Sampai sekarang pasar bear tahun 2022.

Di waktu ini, harga minyak Brent Sudah melampaui USD111 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mendekati USD112 per barel. Bahkan, patokan fisik Dated Brent sempat melonjak Sampai sekarang USD141 per barel, level tertinggi sejak 2008.

Guncangan pasar energi global ini dipicu oleh eskalasi Politik Global berupa serangan militer AS-Israel terhadap Iran sejak akhir Februari 2026 yang menyebabkan penutupan efektif Selat Hormuz. Jalur perdagangan vital yang lumpuh ini mendorong Brent mencatatkan kenaikan bulanan sebesar 64% pada Maret lalu, sebuah Catatan Unggul tertinggi dalam catatan data LSEG sejak 1988.

Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

Exit mobile version