AS Sebut Fasilitas Nuklir Iran Hancur Lebur, Teheran Beri Jawaban Menohok


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Narasi kemenangan dan klaim kegagalan kembali berkelindan dalam konflik Amerika Serikat dan Iran. Di satu sisi, Kepala Negara AS Donald Trump menyatakan operasi militer Washington Sudah melumpuhkan ancaman Teheran.

Di sisi lain, Iran dan Sebanyaknya pengamat justru mempertanyakan capaian tersebut, terutama di tengah masih terganggunya jalur vital energi global, Selat Hormuz.


Dalam pidato terbarunya, Trump menegaskan bahwa Iran “pada dasarnya bukan lagi ancaman” setelah kampanye militer selama lebih dari satu bulan. Ia bahkan mengklaim fasilitas nuklir Iran Sudah “hancur lebur” dan memperingatkan Akan segera adanya serangan lanjutan Bila Teheran mencoba memulihkan kapasitasnya.

“Kita memegang semua kartu. Mereka tidak punya satu pun,” kata Trump, seraya menegaskan bahwa Amerika berada di jalur untuk menyelesaikan seluruh tujuan militernya dalam waktu dekat, sebagaimana diberitakan Foxnews.

Justru, pernyataan tersebut tidak sepenuhnya diterima tanpa kritik. Media Iran menilai pidato tersebut lebih mencerminkan upaya membangun legitimasi politik daripada gambaran faktual di lapangan. Dalam analisisnya, Tasnim menyebut klaim kemenangan Washington sebagai “penyesuaian tujuan” Supaya bisa dapat terlihat berhasil di akhir konflik.

Menurut mereka, Sebanyaknya indikator justru menunjukkan situasi yang lebih kompleks. Gangguan di Selat Hormuz masih berlangsung, sementara Iran dinilai tetap memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan balasan, termasuk melalui rudal.

“Bila kekuatan Iran Sungguh-sungguh hancur, siapa yang masih mengganggu jalur pelayaran global?” demikian kritik yang muncul dalam narasi tersebut.

Di tengah perbedaan klaim tersebut, posisi Iran Bahkan ditegaskan langsung oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Ia menyatakan bahwa masa depan Selat Hormuz tidak dapat ditentukan sepihak oleh kekuatan eksternal, melainkan menjadi kewenangan Iran bersama Oman sebagai negara pesisir.

“Pengaturan Selat Hormuz Merupakan urusan Iran dan Oman,” ujar Araghchi, seraya menambahkan bahwa jalur tersebut dapat menjadi “jalur perdamaian” Bila dikelola melalui mekanisme bersama, sebagaimana diberitakan Al Arabiya.

Selat Hormuz sendiri memiliki arti strategis yang sangat besar. Dalam kondisi normal, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi jalur tersebut. Justru, sejak konflik pecah, akses terhadap selat ini menjadi terbatas, dengan Sebanyaknya kapal menghindari rute tersebut akibat risiko keamanan dan lonjakan biaya asuransi.

 


Loading…


sumber : Antara

Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

Exit mobile version